Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aqidah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 November 2014

Allah Dimana mana ?


(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Keyakinan yang Benar, Sebuah Anugerah yang Besar
Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dalam kesucian fitrah. Pemahaman
 tentang hakikat hidup yang beragam telah mengotori kesucian itu sehingga ternoda. 
Ada yang kemudian menjadi kafir dan ingkar kepada Allah Subhanahu wa ta’ala:  
Majusi, musyrik, Yahudi, dan Nasrani; dan ada pula yang menjadi seseorang yang fasik, 
ahli bid’ah, dan sebagainya. Semua ini sangat tergantung dengan hidayah dari Sang Khaliq, Allah Subhanahu wa ta’ala.  Akhirnya, yang beriman sangat sedikit dibanding dengan yang kafir 
dan ingkar. Yang berada dalam kesucian akidah sangatlah jarang dibanding dengan yang
telah ternoda.
Pertanyaannya, masih luruskah fitrah kita? Atau masih adakah kecenderungan pada sebuah penyimpangan, kemaksiatan, kesesatan, kebatilan, kerusakan, bahkan kekafiran?

Meninggalkan Keyakinan yang Benar adalah Perangkap Iblis
Tidak henti-hentinya iblis dan bala tentaranya merongrong keyakinan orang-orang yang
 beriman, karena dalam pandangan iblis dan bala tentaranya, keyakinan yang benar akan 
bisa meluruskan segumpal daging yang ada dalam jasad setiap insan sebagai muara kebaikan 
dan kejahatan. Apabila segumpal daging tersebut telah tersibghah (tercelup) oleh keyakina
n yang benar, otomatis peluang untuk merusak dan mengotorinya kecil bahkan nihil.
Dalam kitab Talbis Iblis disebutkan tentang tipu daya Iblis untuk menyesatkan umat RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam dari keyakinan yang benar menuju keyakinan yang 
batil.Ibnul Jauzi rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya iblis masuk kepada manusia 
sesuai dengan kadar kesempatan. Peluangnya menguasai manusia berubah-ubah, tergantung pada kesiagaan, kelalaian, kejahilan, dan pengetahuan mereka.
Perlu diketahui, hati itu bagaikan sebuah benteng yang dikelilingi pagar. Pagar itu memiliki pintu-pintu dan terdapat lubang. Penghuninya adalah akal. Malaikat mondar-mandir pada 
benteng tersebut.
Di sampingnya ada tempat tinggal hawa nafsu, sementara itu setan lalu lalang padanya tanpa
 ada yang menghalanginya. Kemudian peperangan bergejolak antara yang tinggal di benteng dengan yang tinggal di tempat hawa nafsu. Setan senantiasa mengitari benteng tersebut untuk mencari kelalaian penjaganya sehingga bisa masuk melalui sebagian lubang.
Si penjaga harus mengetahui semua pintu pagar yang telah dipasrahkan kepadanya untuk 
dijaga dan harus mengetahui semua lubang pula. Penjaga tersebut tidak boleh dihinggapi rasa bosan karena musuh tidak pernah merasa bosan.”
Seseorang berkata kepada Hasan al-Bashri rahimahullah, “Apakah iblis itu tidur?”
Beliau berkata, “Kalau iblis itu tidur, niscaya kita akan bisa istirahat.”
Ibnu Jauzi rahimahullah berkata, “Pengikat yang paling kuat bagi setan untuk menjerat
 tawanannya adalah kejahilan. Setelahnya adalah hawa nafsu. Adapun ikatan yang paling l
emah adalah kelalaian. Selama baju besi seseorang adalah iman, maka panah musuh yang mengenainya tidak akan membunuhnya.” (al-Muntaqa an-Nafis min Talbis Iblis, hlm. 61—62 )

Ketinggian Dzat Allah Subhanahu wa ta’ala Diperdebatkan
Itulah kesesatan. Ia akan menyebabkan seseorang berani berbicara meskipun salah atau 
batil. Bahkan, ia menjadikan seseorang berani mendebat kebenaran, mempertanyakan, dan meragukannya. Tersebarnya segala kesesatan, kebid’ahan, kesyirikan, dan kekufuran, tidak
 lepas dari buah lisan tanpa ilmu, yang lahir dari pemikiran sesat.
Ibnu Qayyim rahimahullah dalam kitab I’lam Muwaqqi’in (1/38) berkata, “Sungguh, Allah Subhanahu wa ta’ala telah mengharamkan seseorang berkata tanpa dasar ilmu, baik
 dalam hal berfatwa maupun menghukumi. Allah Subhanahu wa ta’ala menjadikannya 
sebagai salah satu keharaman yang terbesar, bahkan meletakkannya pada peringkat tertinggi.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,
Katakanlah, ‘Rabbku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak maupun 
yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar,
 (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan 
hujah untuknya, dan (mengharamkan) berbicara tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.’ (al-A’raf: 33)
Dalam ayat di atas, Allah Subhanahu wa ta’ala membagi dosa menjadi empat tahapan. AllahSubhanahu wa ta’ala memulai dari dosa yang lebih ringan, yaitu perbuatan keji. 
Setelahnya, AllahSubhanahu wa ta’ala menyebutkan yang paling tinggi tingkat
 keharamannya, yaitu perbuatan dosa dan kezaliman. Peringkat ketiga lebih besar tingkat 
dosanya daripada kedua hal sebelumnya, yaitu syirik kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.
Kemudian Allah Subhanahu wa ta’ala menutup ayat ini dengan menyebutkan hal keempat 
yang lebih keras tingkat keharamannya, yaitu berbicara tanpa ilmu. Hal ini mencakup 
berbicara tanpa ilmu pada nama-nama Allah Subhanahu wa ta’ala,  sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, agama, dan syariat-Nya.”
Beliau rahimahullah juga berkata, “Tidak ada jenis keharaman di sisi Allah Subhanahu wa ta’alayang lebih besar dan lebih keras dosanya daripada berbicara tanpa dasar ilmu. Bahkan, hal ini adalah pangkal kesyirikan dan kekufuran. Di atasnya dibangun kebid’ahan dan berbagai kesesatan.
Oleh karena itu, pangkal segala kebid’ahan yang menyesatkan di dalam agama adalah
 berbicara tanpa dasar ilmu.
Berdasarkan hal inilah, para pendahulu yang saleh dan para imam sangat keras 
mengingkarinya. Mereka menyeru di mana-mana untuk memperingatkan manusia darinya
 dengan peringatan yang keras.
Kerasnya pengingkaran mereka terhadap hal tersebut tidak seperti yang mereka lakukan
 dalam hal mengingkari perbuatan keji, kezaliman, dan permusuhan; karena kebid’ahan 
sangat berbahaya, menghancurkan agama, dan lebih dahsyat dalam memadamkan
cahayanya.”

Syubhat-Syubhat dan Bantahannya
1. Allah Subhanahu wa ta’ala ada di mana-mana
Keyakinan ini adalah BATIL. Untuk menguatkan keyakinan yang menyelisihi sekian banyak 
dalil ini, mereka memperkuatnya dengan apa yang dianggap sebagai dalil-dalil di dalam
 al-Qur’an, di antaranya:
“Dia (Allah) bersama kalian di mana saja kalian berada.” (al-Hadid: 4)
“Dia bersama mereka di mana pun mereka berada.” (al-Mujadalah: 7)
Jawab: Ayat di atas dianggap dalil dan landasan oleh mereka untuk membangun keyakinan 
yang salah itu. Padahal, konteks kalimatnya sedikit pun tidak menunjukkan makna bahwa AllahSubhanahu wa ta’ala menyatu dengan makhluk-Nya di mana saja mereka berada. 
Tidak pula mengarah ke makna demikian dari sisi mana pun.
Dalam bahasa Arab, bahasa yang al-Qur’an diturunkan dengannya, ma’iyah (kebersamaan)
 tidak menunjukkan selalu bersatu/berkumpul dalam sebuah tempat. Kata tersebut
 menunjukkan kebersamaan yang bersifat mutlak yang ditafsirkan sesuai dengan konteks 
kalimat.
Syaikhul Islam Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, bulan yang terletak di atas 
langit dan termasuk makhluk Allah Subhanahu wa ta’ala yang paling kecil, dia bersama
 orang yang sedang musafir dan bersama orang yang tidak musafir. Hal ini menunjukkan 
bahwa kebersamaan tidak selalu bermakna bergabung, menyatu, dan bercampur dalam 
sebuah tempat. Memaknakan ayat di atas dengan maksud Allah Subhanahu wa ta’ala  
berada di mana-mana adalah batil dari banyak sisi.
a. Hal ini menyelisihi ijma’ salafus saleh umat ini. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menafsirkannya dengan makna demikian. Yang ada, mereka sepakat menentang dan
 mengingkarinya.
b. Menafsirkannya dengan makna Allah Subhanahu wa ta’ala di mana-mana berarti 
menyelisihi sifat ketinggian Allah Subhanahu wa ta’ala yang telah ditetapkan oleh al-Qur’an
 dan as-Sunnah, akal, fitrah, dan ijma’ salafus saleh umat ini.
c. Sikap ini akan melahirkan perkara-perkara batil yang tidak pantas bagi Allah Subhanahu 
wa ta’ala.
Lalu, apa yang dimaksud oleh ayat tersebut?
Makna yang benar tentang ayat di atas adalah Allah Subhanahu wa ta’ala bersama hamba-hamba-Nya. Artinya, Dia Subhanahu wa ta’ala meliputi mereka dengan ilmu-Nya, 
kekuasaan-Nya, pendengaran, penglihatan, pengaturan, kekuatan, dan makna-makna 
rububiyah lainnya. AllahSubhanahu wa ta’ala senantiasa di atas ‘Arsy-Nya, di atas semua 
makhluk. Inilah makna konteks kedua ayat di atas tanpa ada keraguan.
Dalam kitab Mukhtashar al-‘Uluw (hlm. 75) ada sebuah riwayat dari ar-Ramadi, 
“Aku bertanya kepada Nu’aim bin Hammad tentang firman Allah Subhanahu wa ta’ala,  ‘Dia bersama kalian?’
Dia menjawab, ‘Maknanya adalah tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari ilmu Allah  
Subhanahu wa ta’ala.  Tidakkah engkau membaca firman-Nya:
“Tiadalah tiga orang sedang berbicara melainkan Allah Subhanahu wa ta’ala adalah
 keempatnya.”(al-Mujadilah: 7) (Lihat Majmu’ Fatawa, 5/103 dan al-Qawaidul Mutsla, hlm. 59)
Di antara ayat yang mereka anggap sebagai hujah adalah firman Allah Subhanahu wa ta’ala:
“Dan Dialah yang di langit sebagai Ilah (sesembahan) dan di bumi sebagai Ilah (sesembahan). Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.” (az-Zukhruf: 84)
Menurut mereka, ayat ini bermakna Allah Subhanahu wa ta’ala di langit dan Allah Subhanahu wa ta’ala di bumi.
Jawabnya, ayat ini sedikit pun tidak menunjukkan kepada keyakinan mereka bahwa AllahSubhanahu wa ta’ala berada di mana-mana. Justru ayat ini menjelaskan besarnya hak AllahSubhanahu wa ta’ala sebagai satu-satunya Dzat yang disembah. Maknanya adalah 
Dialah sesembahan segala makhluk yang ada di langit dan sesembahan seluruh penduduk
 bumi.
2. Mereka melakukan penakwilan terhadap ayat yang menunjukkan Allah Subhanahu wa ta’alaberada di atas.
Di antaranya firman Allah Subhanahu wa ta’ala: 
“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, yang naik di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5)
Mereka menakwilkan kata اِسْتَوَى (naik, tinggi) dengan اِسْتَوْلَى (berkuasa) sebagaimana mereka melakukan penakwilan terhadap kata lain yang menyebutkan sifat Allah Subhanahu wa ta’ala,  
baik dalam al-Qur’an maupun hadits.
Mereka menguatkan hujahnya dengan sebuah syair:
قَدِ اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ
مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ وَدَمٍ مِهْرَاقِ
Sungguh Bisyr telah istiwa (berkuasa) atas Irak
tanpa perang dan pertumpahan darah
Mereka memaknai اِسْتَوَى di sini dengan “menguasai:. Kata mereka, bait ini berasal dari 
seorang Arab yang fasih, sehingga tidak mungkin maknanya ‘Bisyr naik/tinggi di Irak’. 
Terlebih di masa itu belum ada pesawat terbang yang membuatnya berada di atas Irak.
Jawab: Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala beristiwa’
 (tinggi) di atas ‘Arsy-Nya. Istiwa’ ini sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah  
Subhanahu wa ta’ala,  tidak sama dengan istiwa’ makhluk-Nya. Kata اسْتَوَى disebutkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala pada tujuh tempat di dalam al-Qur’an.
Memaknakan اسْتَوَى (naik, tinggi) dengan اسْتَوْلَى (berkuasa) adalah batil dari banyak sisi yaitu:
1. Menyelisihi penafsiran salaf umat ini yang berijma’ atas penafsiran tersebut.
Bukti ijma’ mereka adalah tidak ada penukilan dari salah seorang mereka bahwa اسْتَوَى 
berarti اسْتَوْلَى.
2. Menyelisihi konteks nash karena lafadz اسْتَوَى apabila digandengkan dengan huruf ‘ala 
bermakna di atas dan menetap. Inilah makna lahiriah lafadznya dan yang diinginkan di dalam al-Qur’an dan oleh bahasa Arab.
3. Apabila kita memaknakan اسْتَوَى dengan اسْتَوْلَى, akan muncul konsekuensi yang batil di dalamnya, Mahasuci Allah.
Di antaranya adalah:
• Allah Yang Mahasuci dari praduga ahli kebatilan, saat menciptakan langit dan bumi tidak 
dalam kondisi berkuasa atas ‘Arsy-Nya, setelah itu baru Dia Subhanahu wa ta’ala berkuasa.
• Penggunaan kalimat اسْتَوْلَى (berkuasa) mayoritasnya terjadi setelah ada perebutan
 kekuasaan. Padahal tidak ada seorang makhluk pun yang setara dengan Allah Subhanahu 
wa ta’ala apalagi mengalahkannya.
• Kalau benar makna اسْتَوَى adalah اسْتَوْلَى, dan ini batil, boleh juga kita mengatakan Allah 
 Subhanahu wa ta’ala اسْتَوَى di atas bumi, pohon-pohon, dan gunung-gunung, karena Allah Subhanahu wa ta’alaberkuasa atas semuanya. Tentu saja makna ini batil.  
(Lihat Syarah al-Aqidah al-Wasithiyah, Ibnu Utsaimin, hlm. 319 dan Fathu Rabbil Bariyyah bi Talkhis al-Hamawiyyah, hlm. 39)
3. Jika kalian, wahai Ahlus Sunnah, mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala berada 
di langit, berarti kalian telah menjadikan Allah Subhanahu wa ta’ala diliputi oleh langit,
 padahal tidak ada sesuatu pun dari makhluk-Nya yang meliputi Allah Subhanahu wa ta’ala.
Jawab: Syubhat ini jawabannya dari dua sisi.
a. Kata السَّمَاء dalam bahasa Arab artinya ‘sesuatu yang di atas, baik langit maupun yang lain’. Dengan demikian, segala apa yang di atas kita adalah sama’, sehingga makna ayat, ‘apakah
 kalian merasa aman dengan Dzat yang ada di langit’, maksudnya ‘yang berada di atas.’
b. Kata فِي di dalam bahasa Arab memiliki fungsi dan makna yang bermacam-macam sesuai dengan konteksnya. Adapun kata فِي di sini bermakna عَلَى (di atas) sehingga makna فِي السَّمَاء, 
artinya di atas langit, bukan di dalam langit.
Kata فِي bermakna عَلَى dalam beberapa ayat al-Qur’an,
“Sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma.” (Thaha: 71)
Tidak mungkin penyaliban itu terjadi di dalam pangkal kurma, tetapi di atasnya.
Demikian juga ayat:
“Maka berjalanlah di penjurunya.” (al-Mulk: 15)
Tidak mungkin perintah tersebut bermakna ‘kita diperintah untuk berjalan di dalam bumi’, 
tetapi di atasnya. (Lihat Tuhfatu Murid Syarah al-Qaulul Mufid, hlm. 6—7)
Sumber : asysyariah.com

Selasa, 25 November 2014

Bolehkah Seorang MUSLIM Memakan Makana Dari Perayaan AHLUL KITAB DAN ORANG MUSYRIK





Pertanyaan:
“ Bolehkah seorang muslim memakan makanan dari perayaan ahli kitab (Yahudi dan Nashrani)
 atau dari/perayaan orang musyrik di hari raya mereka atau menerima pemberian yang berhubungan
dengan hari raya mereka? ”
______
Jawaban :
“Tidak boleh seorang muslim memakan makanan yang dibuat oleh orang Yahudi dan Nashrani
 atau orang musyrik yang berhubungan dengan hari raya mereka. Begitu pula seorang muslim
tidak boleh menerima hadiah yang berhubungan dengan perayaan tersebut.Karena jika kita
 menerima pemberian yang berhubungan dengan hari raya mereka, itu
termasuk bentuk memuliakan dan menolong dalam menyebarluaskan syi’ar agama
 mereka. Hal itu pun termasuk mempromosikan ajaran mereka yang mengada-ada dan turut
 gembira dalam perayaan mereka. Seperti itu pun dapat dianggap menjadikan perayaan
mereka menjadi perayaan kaum muslimin.
Boleh jadi awalnya mereka ingin mengundang kita, namun diganti dengan yang lebih ringan
yaitu dengan memberi makanan atau hadiah saat mereka berhari raya. Ini termasuk
musibah dan ajaran agama yang mengada-ada. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻰ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻓِﻴﻪِ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ
“Barangsiapa yang mengada-adakan amalan baru yang bukan ajaran dari kami, maka amalannya
tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sebagaimana pula tidak boleh bagi seorang muslim memberi hadiah kepada non muslim yang
 berhubungan dengan perayaan mereka.
وبالله التوفيق ، وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al’Ilmiyyah wal Ifta
- Ketua : Syaikh ‘Abdul
‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz
-Wakil Ketua : Syaikh ‘Abdurrozaq ‘Afifi
-Anggota : Syaikh ‘Abdullah bin Qu’ud
Sumber: Fatwa Al Lajnah Ad Daimah lil Buhuts Al ‘Ilmiyyah wal Ifta’ pertanyaan kedua dari
fatwa no. 2882, juz 22, hal. 398 – 399.

Senin, 23 Desember 2013

Siapa Bilang Tidak ada Larangan Memberi Salam Natal?

Tatkala membaca tulisan (termuat pada Kamis, 20 Desember 2012 | 14:47 WIB) sebagai berikut,
“JAKARTA, KOMPAS.com — Cendekiawan Muslim Sholahuddin Wahid mengatakan, umat Islam sah-sah saja mengucapkan Natal kepada umat Kristiani. Pasalnya, tidak ada dasar yang melarang Muslim mengucapkan natal.
“Mengucapkan Natal adalah bentuk ungkapan saling menghormati antar pemeluk agama,” kata Gus Sholah kepada Kompas.com, Jakarta, Kamis (20/12/2012).
Gus Sholah menambahkan, para ulama yang melarang umat Islam mengucapkan selamat Natal perlu mencari alasan tepat. Kendati demikian, Gus Sholah tidak menyalahkan para ulama itu. Menurutnya, ulama memiliki dasar pendapat sendiri. Gus Sholah hanya meminta agar para ulama memikirkan dampak sosial dari ucapannya. Pasalnya, ucapan mereka berdampak luas.
“Aspek sosial tidak pernah melarang Muslim mengucapkan Natal. Saya sendiri juga mengucapkan Natal,” pungkasnya….”
[http://nasional.kompas.com/read/2012/12/20/14473966/Gus.Sholah.Muslim.Boleh.Ucapkan.Natal]
Saya sangat sedih membaca ucapan di atas seraya menganggap bahwa ucapan tersebut adalah hal yang menyesatkan dan berbahaya bagi umat Islam.
Ada tiga pokok kerusakan yang memicu timbulnya ucapan rusak di atas:
Pertama, pemilik ucapan di atas tidak memahami dasar penting dan kaidah masyhur di kalangan umat Islam tentang larangan memberi ucapan selamat untuk hari raya kaum kafir. Padahal, tidak ada silang pendapat ulama fikih di seluruh madzhab akan keharaman memberi ucapan selamat pada simbol-simbol agama kaum kafir.
Salah seorang pemuka ulama yang diakui akan keluasan pengetahuannya tentang pendapat-pendapat ulama Islam dari masa shahabat hingga masa beliau, Ibnul Qayyim, berkata, “Adapun memberi ucapan selamat untuk simbol-simbol kekafiran yang berkaitan khusus dengannya, (hal tersebut) adalah haram menurut kesepakatan (ulama), seperti memberi ucapan selamat pada hari-hari raya dan puasa mereka, (yaitu) seseorang berkata, ‘Hari raya berberkah untukmu,’ atau engkau memberi ucapan selamat untuk hari raya tersebut dan semisalnya. Kalau orang yang mengucapkan (ucapan selamat) tersebut selamat dari kekafiran, (ucapan itu) merupakan hal-hal yang diharamkan, seperti orang yang memberi ucapan selamat kepada orang yang sujud kepada salib, bahkan hal tersebut dosanya lebih berat di sisi Allah dan lebih dibenci daripada dia memberi ucapan selamat kepada orang yang meminum khamar, membunuh jiwa, melanggar kemaluan yang diharamkan, dan semisalnya. Banyak orang, yang tidak memiliki penghargaan terhadap agama, terjatuh ke dalam perbuatan tersebut, sedang dia tidak mengetahui kenistaan perbuatannya. Barang siapa yang memberi ucapan selamat kepada seseorang untuk suatu maksiat, bid’ah, atau kekafiran, sungguh dia telah menghadapkan (dirinya) kepada kebencian dan kemurkaan Allah ….” [Ahkâm Ahlidz Dzimmah 1/441]

Kedua, kejahilan terhadap dalil-dalil yang mengharamkan pemberian ucapan selamat untuk hari raya orang kafir.
Banyak dalil yang menunjukkan akan keharamannya, di antaranya adalah:
Pertama, Allah mengharamkan memberi loyalitas kepada orang-orang kafir. Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali-wali (kalian) yang sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian yang memberi loyalitas kepada mereka, sesungguhnya orang itu termasuk ke dalam golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidaklah memberi hidayah kepada orang-orang zhalim.” [Al-Mâ`idah: 51]
Kedua, Allah melarang condong kepada orang-orang kafir dalam bentuk apapun. Allah berfirman,
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“Dan janganlah kalian cenderung kepada orang-orang zhalim yang mengakibatkan kalian disentuh oleh api neraka, dan sekali-kali kalian tiada mempunyai seorang penolong pun, kecuali Allah, kemudian kalian tidak akan diberi pertolongan.” [Hûd: 113]
Ketiga, orang-orang kafir yang gemar bermaksiat dan berbuat kekafiran terhitung ke dalam golongan yang Allah cela sebagaimana dalam firman-Nya,
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan janganlah kalian seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” [Al-Hasyr: 19]
Keempat, kita hanya diperintah untuk mengikut syariat kita dan dilarang untuk mengikut selainnya. Allah berfirman,
اتَّبِعُوا مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ وَلَا تَتَّبِعُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ
“Ikutilah segala sesuatu yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selain-Nya. Amat sedikitlah kalian mengambil pelajaran (darinya).” [Al-A’râf: 3]
Allah juga berfirman,
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ، إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ
“Kemudian Kami menjadikan engkau berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu) maka ikutilah syariat itu, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak siksaan Allah darimu sedikitpun. Sesungguhnya orang-orang zhalim itu sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah wali orang-orang yang bertakwa.” [Al-Jâtsiyah: 18-19]

Pokok Kerusakan Ketiga, ketidakpahaman akan perbedaan syariat membenci agama orang kafir dan syariat berbuat baik kepada orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin.
Memang, dalam agama kita, terdapat kebolehan untuk berbuat baik kepada orang-orang kafir yang tidak memerangi agama. Allah berfirman,
لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ، إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Allah tidaklah melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama tidak pula mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian terhadap orang-orang yang memerangi kalian karena agama, mengusir kalian dari negeri kalian, dan membantu (orang lain) untuk mengusir kalian. Barangsiapa yang menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang zhalim.” [Al-Mumtahanah: 8-9]
Dalam buku-buku fiqih dan akhlak, telah terurai secara lengkap seputar keindahan Islam dalam mengatur interaksi dengan orang-orang kafir, baik kafir itu sebagai keluarga, kerabat, tamu pribadi, tetangga, tamu negara, sesama penduduk negara, maupun selainnya.
Namun, banyak orang-orang, yang pemikirannya rusak, mencampuradukkan prinsip-prinsip Islam sehingga menyesatkan pemahaman dan mengaburkan tuntunan.
Seorang muslim dan muslimah wajib membedakan antara perintah agama untuk membenci orang-orang kafir, agama, dan kebiasaan mereka dan perintah berbuat baik kepada kaum kafir dengan ketentuan yang telah disebutkan.
Sebagaimana, harus dibedakan antara memberi loyalitas yang bermakna kecintaan dan pertolongan dan berbuat baik kepada kaum kafir.
Pembahasan toleransi hanya pada berbuat baik, bukan pada masalah loyalitas.
Oleh karena itu, seseorang tidak boleh membenarkan agama kaum kafir dan memberi ucapan selamat untuk hari raya mereka.
Semoga Allah memberi hidayah dan petunjuk kepada seluruh kaum muslimin dan menjaga mereka dari segala hal yang membahayakan agama mereka. Amin.
Wallahu A’lam.
Sumber : http://dzulqarnain.net/siapa-bilang-tidak-ada-larangan-memberi-salam-natal.html

Senin, 04 November 2013

Sebab-sebab Terjadinya Kesyirikan


Ustadz Luqman Jamal , Lc.
PERTANYAAN
Banyak di antara kaum muslimin yang terjerumus ke dalam kesyirikan dengan melakukan amalan-amalan tertentu yang mereka anggap sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, padahal justru merupakan sebab-sebab kesyirikan. Oleh sebab itu, kami memohon penjelasannya, mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kita dan mereka!
JAWABAN
Mengetahui sebab-sebab terjadinya kesyirikan adalah perkara yang sangat penting dalam rangka menghindarkan diri dengan sejauh-jauhnya darinya, sebab kesyirikan adalah dosa yang terbesar, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengabarkan bahwasanya Dia tidak akan mengampuni pelaku kesyirikan bila tidak bertaubat. Hal ini mewajibkan seorang hamba untuk berhati-hati dan sangat takut kepada-Nya, dan membawanya untuk mengetahui dan menjauhi kesyirikan, karena sesungguhnya kesyirikan adalah sejelek-jelek perkara dan kezhaliman yang paling besar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezhaliman yang paling besar.” [ Luqman: 13 ]
Sebab-sebab kesyirikan sangatlah banyak, dan yang akan disebutkan adalah pokok-pokoknya, yang dari pokok-pokok inilah kemudian sebab-sebab itu bercabang-cabang. Pokok-pokok itu antara lain:
Berlebih-Lebihan Dalam Memuji
Pertama, Berlebih lebihan dalam memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam telah mengingatkan dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim dari hadits ‘Umar radhiyallahu ‘anhu,
لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَصَارَى عِيْسَى بْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُوْلُوْا عَبْدُ الله وَرَسُوْلُهُ
“Janganlah kalian Ithra` kepadaku sebagaimana orang-orang Nashara Ithra` terhadap ‘Isa bin Maryam. Sesungguhnya saya hanyalah seorang hamba-Nya, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.”
Ithra` adalah melampaui batas dalam memuji. Jadi, maksud hadits di atas adalah “Janganlah kalian memujiku dengan melampaui batas sebagaimana Nashara telah berlebih-lebihan dalam memuji ‘Isa bin Maryam sampai mereka mengangkatnya sebagai Ilah yang patut disembah, tetapi sifatilah saya sebagai hamba-Nya dan Rasul-Nya, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyifati saya dalam Al Qur`an,
“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al Qur`an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya.” [ Al-Kahfi: 1 ] ”
Akan tetapi orang-orang musyrikin dari dahulu sampai sekarang tidak mau kecuali menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan melanggar larangannya. Mereka mengagungkan beliau secara berlebihan dan melakukan hal-hal yang beliau telah melarang dan memperingatkan umatnya dari hal tersebut, yaitu berlebihan dalam mengagungkan beliau. Mereka menyerupai orang-orang Nashara yang berlebihan dalam memuji nabinya. Di antara bentuk kesyirikan dari jenis ini adalah syair Al Bushiry di dalam Al-Burdah . Dia berkata,
يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِيْ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعُمَمِ
“Wahai Makhluk yang paling mulia, kepada siapa saya memohon perlindungan, kecuali kepadamu jika terjadi musibah yang besar.”
Lalu perkataannya yang lain,
فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتَهَا وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمُ الْلَوْحِ وَالْقَلَمِ
“Sesungguhnya dari kemuliaanmu lahir dunia dan pasangannya (akhirat) dan termasuk dari ilmumu ilmu Lauh Mahfudz dan Al-Qalam.”
Bait-bait syair seperti ini mengandung doa, permintaan dan perlindungan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Juga berisi permintaan agar dihilangkan kesempitan hidup, kesengsaraan serta kerusakan dari penulisnya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan melupakan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal ini bisa terjadi karena syaitan menghias-hiasi perbuatan mereka. Syaithan menampakkan kepada mereka, bahwa ghuluw ‘berlebih-lebihan’ dalam memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, walaupun hal itu merupakan syirik akbar, adalah dalam rangka mencintai dan memuji Nabi. Dia juga menampakkan bahwa berpegang teguh kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam lalu tidak berlebihan dalam memujinya merupakan perbuatan membenci, mengurangi hak, enggan untuk bershalawat, dan tidak memuliakan beliau shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Allahu Musta’an .
Kedua, Berlebih-lebihan dalam memuji orang-orang shalih.
Jika berlebih-lebihan dalam memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam saja terlarang, maka berlebih-lebihan kepada selain beliau, seperti orang-orang shalih, jelas lebih terlarang lagi. Hal inilah yang merupakan penyebab kesyirikan pertama pada umat manusia, yaitu pada umat Nabi Nuh ‘alaihis salam, sebagaimana disebutkan dalam Al Qur`an,
“Dan mereka berkata, ‘Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nasr.’.” [ Nuh: 23 ]
Imam Bukhary mengeluarkan dalam Shahih -nya (8/667) tentang tafsir ayat ini, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwa ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata,
ثُمَّ صَارَتْ الأَوْثَانُ الَّتِي كَانَتْ فِي قَوْمِ نُوْحٍ فِي العَرَبِ بَعْدُ. أَمَّا وَدُّ كَانَتْ لِكَلْبِ بِدَوْمَةِ الجَنْدَلِ, وَأَمَّا سُوَاعٌ كَانَتْ لِهُذَيْلٍ, وَأَمَّا يَغُوْثُ فَكَانَتْ لِمُرَادِ ثُمَّ لِبَنِي غَطِيْفِ بِالجَوْفِ ثُمَّ سَبَأَ, وَأَمَّا يَعُوْقُ فَكَانَتْ لِهَمْدَانِ وَأَمَّا نَسْرٌ فَكَانَتْ لِحِمْيَرِ لآِلِ ذِي الكَلاَعِ أَسْمَاءُ رِجَالٍ صَالِحِيْنَ مِنْ قَوْمِ نُوْحٍ فَلَمَّا هَلَكُوْا أَوْحَى الشَيْطَانُ إِلَى قَوْمِهِمْ أَنِ انْصَبُوْا إِلَى مَجَالِسِهِمْ الَّتِي كَانُوْا يَجْلِسُوْنَ أَنْصَابًا وَسَمُّوْهَا بِأَسْمَائِهِمْ فَفَعَلُوْا فَلَمْ تُعْبَدْ حَتَى إِذَا هَلَكَ أُوْلَئِكَ وَتَنْسَخُ العِلْمُ عُبِدَتْ
“Kemudian jadilah patung-patung yang ada pada kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam disembah di Jazirah Arab setelahnya. Adapun Wadd adalah patung kepunyaan Kalb di Daumatul Jundal. Adapun Suwa` adalah patung kepunyaan Hudzail. Adapun Yaghuts adalah patung kepunyaan Muradi yang kemudian untuk Bany Ghathif di daerah Jauf kemudian Saba`. Adapun Ya ’uq adalah patung kepunyaan Hamdan. Adapun Nasr adalah patung kepunyaan Himyar khususnya keluarga Dzil Kala’. (Kelima nama ini) adalah nama orang-orang shalih dari kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam. Maka tatkala mereka (orang-orang shalih) itu wafat, syaithan mempengaruhi kaum Nabi Nuh agar membuat patung-patung pada majelis-majelis mereka yang mereka biasa duduk padanya (dalam rangka mengingat mereka), dan (syaithan juga mempengaruhi mereka) agar mereka menamakan patung-patung terrsebut dengan nama-nama orang shalih tersebut. Maka mereka pun (kaum Nuh) melakukannya. Dan ketika itu mereka (patung-patung itu) belum disembah. Akan tetapi, tatkala orang-orang yang membuat patung tersebut telah meninggal dan ilmu agama telah hilang, maka patung-patung itu pun disembah .” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini).
Yang dimaksud dengan berlebih-lebihan terhadap orang-orang shalih adalah mengangkat mereka pada kedudukan yang tidak ada yang boleh mendudukinya kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala, yakni istighatsah tatkala terkena kesusahan atau tatkala ditimpa bencana, tawaf di kuburan mereka, tabarruk ‘mencari berkah’ dari barang-barang peninggalan mereka, menyembelih di kuburan-kuburan mereka dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada mereka, meminta pertolongan kepada mereka padahal mereka telah meninggal, dan lain-lain.
Telah terjadi pula pada umat ini, seperti apa yang terjadi pada umat Nabi Nuh ‘alaihis salam, tatkala syaithan menampakkan kepada kebanyakan orang bahwa ghuluw ‘berlebih-lebihan’ dan bid’ah-bid’ah adalah pengagungan dan bukti kecintaan terhadap orang-orang shalih. Kemudian syaithan memengaruhi kebanyakan orang tersebut agar membangun kuburan-kuburan orang-orang shalih itu, i’tikaf di situ dan menganggap berdoa di tempat itu diterima. Kemudian meningkat lagi ke bentuk keharaman yang lebih tinggi, bahkan sampai kepada kesyirikan, seperti berdoa dan bertawassul kepada orang-orang shalih itu. Kemudian berpindah lagi kepada tingkatan yang lebih tinggi, yaitu mengajak manusia untuk beribadah kepada kuburan-kuburan tersebut, dalam bentuk menjadikan hari-hari tertentu sebagai hari peringatan untuk mengunjungi kuburan-kuburan tersebut dan melaksanakan ibadah-ibadah tertentu padanya. Kalau semua hal di atas telah tetap dan mendarah daging, berpindah lagi kepada yang lebih jelek yaitu, meyakini bahwasanya barangsiapa yang melarang perbuatan-perbuatan seperti itu, maka sesungguhnya dia adalah orang yang merendahkan derajat serta membenci para wali. Kebanyakan orang tersebut meyakini bahwa orang yang melarang perbuatan mereka adalah orang yang tidak memiliki penghormatan, pemuliaan dan pengakuan terhadap kedudukan para wali tersebut. Keyakinan ini telah menghunjam kuat di dalam hati orang-orang awam yang bodoh, bahkan orang-orang yang dianggap mempunyai ilmu agama, sehingga mereka memusuhi ahli tauhid dan menggelarinya dengan gelar-gelar yang buruk yang menyebabkan manusia lari dari ahli tauhid tersebut. Mereka memusuhi ahli tauhid dengan mengatasnamakan kecintaan dan pengagungan kepada orang-orang shalih, padahal mereka itu berdusta, karena mencintai orang-orang shalih hakikatnya adalah sejalan dan sesuai dengan Al-Kitab dan Sunnah menurut pemahaman para Salaf Ash-Shalih. Adapun caranya adalah dengan mengetahui keutamaan-keutamaan Salaf Ash-Shalih tersebut dan mencontoh amalan-amalan shaleh mereka, tanpa meremehkan atau bersikap berlebih-lebihan terhadap mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan orang-orang, yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), berdoa, ‘Wahai Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’.” [ Al-Hasyr: 10 ]
Ta’ashshub (Fanatik) Terhadap Peninggalan Nenek Moyang Walaupun Itu Bathil dan Menyelisihi yang Haq Khususnya Dalam Masalah Aqidah
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pun sebagai pemberi peringatan dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah (para pembesar) di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.’.” [ Az-Zukhruf: 23 ]
Tetapi hujjah mereka ini dalam mengikuti nenek moyang telah terbantah oleh firman Allah lainnya,
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” [ Al-Baqarah: 170 ]
Keyakinan inilah yang merasuk dan tertanam dalam jiwa-jiwa kaum musyrikin dari dahulu hingga sekarang, sehingga mereka menentang dakwah para Nabi dan orang-orang yang mengikutinya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta ’ala tentang kaum Nabi Nuh ‘alaihis salam,
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia. Maka mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?’ Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab, ‘Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kalian. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.’.” [ Al-Mu`minun: 23-24 ]
Lihat pula keadaan kaum Nabi Shalih ‘alaihis salam,
“Kaum Tsamud berkata, ‘Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebelum ini adalah seorang di antara kami yang kami harapkan, apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?’.” [ Hud: 62 ]
Juga perhatikan kaum Nabi Ibrahim ‘alahis salam,
“Mereka menjawab, ‘(Bukan karena itu) sebenarnya. Kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.” [ Asy-Syu’ara`: 74 ]
kemudian tentang orang-orang musyrikin Arab dan yang mengikuti mereka hingga kini yang berkata kepada Rasulullah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, dan orang-orang yang mengikuti beliau,
“Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka (seraya berkata), ‘Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal (mengesakan Allah) ini dalam agama yang terakhir. Hal ini tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.” [ Shad: 6-7 ]
Namun perlu diketahui, bahwa perbuatan mengikuti nenek moyang kadang terpuji bila nenek moyang tersebut berada di atas kebenaran, sebagaimana Nabi Yusuf mengikuti nenek moyangnya,
“Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah.” [ Yusuf: 38 ]
Senada pula dengannya surah Ath-Thur ayat 21.
Kejahilan atau Kebodohan Terhadap Aqidah yang Benar
Hal ini disebabkan oleh keengganan untuk mempelajari aqidah yang benar dan mengajarkannya, atau sangat sedikitnya perhatian dan pemeliharaan terhadapnya sehingga melahirkan generasi yang tidak mengenal aqidah yang benar atau tidak mengenal hal-hal yang menyelisihi dan membatalkannya, sehingga pada akhirnya dia meyakini yang batil itu haq dan yang haq itu batil, sebagaimana perkataan Umar Ibnu Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya akan dicabut nilai-nilai keislaman sedikit demi sedikit jika di dalam Islam tumbuh dan berkembang orang-orang yang tidak mengenal jahiliyah.” Kebodohan ini merata dan merajalela di tengah-tengah masyarakat Islam. Di antara kebodohan tersebut misalnya pemahaman terhadap tauhid yang hanya terbatas pada tauhid Rububiyah saja, seperti anggapan bahwa orang-orang musyrik dahulu dikatakan musyrik karena mereka meyakini patung-patungnya mampu menciptakan, memberi rezeki, memberi manfaat dan mudarat. Anggapan ini adalah asal kesesatan mayoritas manusia, yang sebab mendasar dari tersebarnya pemahaman ini di kalangan manusia adalah filsafat Yunani yang tercela dan orang-orang yang mengambil ilmu dari mereka dari ahli kalam yang mereka itu memusatkan perhatian dalam menafsirkan kalimat tauhid dengan tafsiran tauhid Rububiyah saja.
Yang haq, tidak ada keraguan padanya, dijadikan dasar penerapan oleh seluruh ulama, dan sesuai dengan penjelasan Al Qur`an adalah bahwasanya orang-orang musyrik dahulu pada zamannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam meyakini Allah sebagai pencipta dan pemberi rezeki mereka. Mereka menetapkan tauhid Rububiyah dalam perbuatan-perbuatan Allah, yaitu mencipta, memberi rezeki, mengatur urusan, menghidupkan, mematikan, dan sebagainya, yang mereka tidak meyakini sedikit pun adanya sesuatu yang menyamai Allah dalam perbuatan-perbuatan tersebut. Itulah yang dinamakan oleh para ulama sebagai tauhid Rububiyah. Akan tetapi mereka tidak mentauhidkan Allah dalam perbuatan-perbuatan mereka, yakni berdoa, meminta pertolongan, mengharap, menyembelih, bernadzar, dan sebagainya, yang para ulama menamakannya sebagai tauhid Uluhiyah atau tauhid Ibadah.
Untuk memperjelas masalah ini, perhatikanlah beberapa ayat dalam Al Qur`an yang menjelaskan dengan berbagai macam pendalilan yang menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin menetapkan tauhid Rububiyah sementara kesyirikan mereka adalah dalam tauhid Uluhiyah.
Jenis pertama , ayat-ayat yang menjelaskan tentang penetapan mereka terhadap tauhid Rububiyah.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Katakanlah, ‘Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakanlah, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?’.” [ Yunus: 31 ]
Kemudian firman-Nya,
“Katakanlah, ‘Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak ingat?’ Katakanlah, ‘Siapakah Rabb-nya langit yang tujuh dan Rabb-nya `Arsy yang besar?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘Maka apakah kalian tidak bertakwa?’ Katakanlah, ‘Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kalian mengetahui?’ Mereka akan menjawab, ‘Kepunyaan Allah.’ Katakanlah, ‘(Kalau demikian), maka bagaimana kalian bisa tertipu/tersihir?’.” [ Al-Mu`minun: 84-89 ]
Lihat pula surah Al-Ankabut: 61-63, Luqman: 25, dan Az-Zumar: 38.
Ayat-ayat tersebut menggambarkan keyakinan orang-orang musyrikin Arab dahulu dan orang-orang musyrik selain mereka yang menetapkan tauhid Rububiyah, kemudian, dengan mengambil konsekuensi dari pengakuan mereka terhadap tauhid Rububiyah, mereka dipojokkan dengan pertanyaan tentang pengingkaran mereka terhadap tauhid Uluhiyah. Lalu bagaimana dengan orang yang mengingkari tentang hal ini dan mengatakan bahwasanya orang-orang musyrikin tidak menetapkannya padahal Allah telah menceritakan penetapan mereka di dalam Al-Qur`an .
Jenis kedua , ayat-ayat yang menjelaskan persaksian mereka tentang adanya sembahan-sembahan selain Allah.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Katakanlah, ‘ Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?’ Katakanlah, ‘ Allah.’ Dia menjadi saksi antara aku dan kalian. Dan Al Qur`an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepada kalian dan kepada orang-orang yang sampai Al Qur`an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kalian mengakui bahwasanya ada sembahan-sembahan yang lain di samping Allah? Katakanlah, ‘ Aku tidak mengakui.’ Katakanlah, ‘ Sesungguhnya Dia adalah sembahan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan (dengan Allah).’.” [ Al-An’am: 19 ]
Ayat yang mulia ini memberikan faidah bahwasanya orang-orang musyrikin mempersaksikan bahwasanya Allah adalah Ilah (sesembahan) mereka, akan tetapi mereka mengatakan bahwasanya bersama Allah ada sembahan-sembahan yang lain. Persaksian mereka ini dikuatkan dengan sumpah, penguat dengan kata anna dan huruf lam. Maka lafadz ma’a pada firman Allah, أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ ءَالِهَةً أُخْرَى , menunjukkan bahwasanya mereka menetapkan Rububiyah Allah dan sekaligus Uluhiyah-nya, akan tetapi mereka menjadikan bersama Allah ilah-ilah yang lain. Maka kesyirikan mereka dari sisi penyekutuan mereka kepada ilah-ilah bersama Allah yang mereka menghadap kepada ilah-ilah itu dengan menjadikannya sebagai perantara untuk menghubungkan mereka kepada Allah, menyampaikan hajat dengan berdoa kepada mereka. Ini adalah keyakinan dan agama mereka. Makna seperti ini terdapat di dalam Al Qur`an dalam ayat-ayat yang banyak, di antaranya firman Allah dalam beberapa ayat,
“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung untuk (mengokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui. Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang berada dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). Atau siapakah yang memimpin kamu dalam kegelapan di daratan dan lautan dan siapa (pula)kah yang mendatangkan angin sebagai kabar gembira sebelum (kedatangan) rahmat-Nya? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Maha Tinggi Allah terhadap apa yang mereka persekutukan (dengan-Nya). Atau siapakah yang menciptakan (manusia dari permulaannya), kemudian mengulanginya (lagi), dan siapa (pula) yang memberikan rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Apakah di samping Allah ada sembahan (yang lain)? Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti kebenaran kalian, jika kalian memang orang-orang yang benar.’.” [ An-Naml: 60-64 ]
Lihat pula surah Al-Hijr: 95-96.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan dalam Al Qur`an apa yang diyakini oleh orang-orang musyrikin bahwasanya bersama Allah ada ilah-ilah (sembahan) yang lain. Mereka menetapkan Rububiyah Allah dan Uluhiyah-Nya akan tetapi menjadikan bersama-Nya ilah-ilah yang lain dalam beribadah. Siapa yang memperhatikan dan mentadabburi ayat-ayat yang mulia ini, maka akan dibukakan baginya pintu-pintu ilmu yang membawanya kepada pemahaman yang shahih tentang aqidah yang shahih.
Jenis ketiga , ayat-ayat yang berisi pengakuan dan penetapan mereka atas kesyirikan mereka.
Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Akan berkata orang-orang musyrikin, ‘Seandainya Allah menginginkan, maka kami tidak akan berbuat kesyirikan dan tidak pula bapak-bapak kami, dan tidak pula mengharamkan sesuatu apapun.’.” [ Al-An’am: 148 ]
Ayat ini memberikan faidah bahwasanya mereka menetapkan pada diri mereka kesyirikan dalam ibadah. Mereka mengakui dirinya berbuat kesyirikan dalam Uluhiyah-Nya Allah pada saat mereka menetapkan Rububiyah-Nya.
Jenis keempat , ayat-ayat yang menggambarkan bahwa terjadinya kesyirikan mereka adalah di saat senang/lapang.
Di antaranya firman Allah,
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ibadah hanya kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, seketika mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” [ Al-‘Ankabut: 65 ]
Perhatikan pula ayat yang semakna dengannya dalam surah Luqman: 32.
Kemudian firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Dialah Tuhan yang menjadikan kalian dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kalian berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpa mereka, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya. (Mereka berkata), ‘Sesungguhnya jika engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.’.” [ Yunus: 22 ]
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan dalam ayat-ayat di atas bahwasanya orang-orang musyrikin, yang mendustakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dan memerangi beliau, tidak berbuat kesyirikan kecuali dalam keadaan lapang dan senang dan bukan dalam keadaan susah atau tertimpa bencana dan kesulitan. Mereka pada saat seperti itu mengikhlaskan agama hanya kepada Allah, tidak berdoa kepada selain-Nya dan tidak mengambil perantara antara dirinya dengan Allah. Maka bagaimana dengan orang yang mengatakan bahwasanya orang-orang kafir itu musyrik dalam Rububiyah Allah tidak dalam ibadah kepada-Nya. Apakah mungkin mereka itu berdoa dalam keadaan ikhlas ketika ditimpa bencana kalau mereka tidak meyakini Rububiyah dan Uluhiyah-Nya?
Jenis kelima , ayat-ayat yang menggambarkan penetapan mereka terhadap tauhid Rububiyah dan kesyirikan mereka dalam tauhid Uluhiyah:
Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
“Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain).” [ Yusuf: 106 ]
Iman mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta ’ala adalah ucapan mereka bahwasanya Allah adalah pencipta, pemberi rezeki, serta yang mematikan dan menghidupkan mereka. Selain itu, kesyirikan mereka adalah tatkala mereka menjadikan bagi Allah serikat dalam ibadah dan berdoa kepada-Nya. Maka mereka tidak mengikhlaskan bagi-Nya dengan meminta hanya kepada-Nya. Demikianlah tafsir ayat di atas menurut para ahli tafsir, yakni Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid, Qatadah, Atha’, dan selain mereka. (Lihat Tafsir Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim tentang ayat ini).
 
Adapun dalil-dalil dari As-Sunnah yang menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin menetapkan tauhid Rububiyah adalah:
Pertama, hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu sebagaimana dalam Shahih Muslim (2/4),
كَانَ رَسُوْلُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يُغِيْرُ إِذَا طَلَعَ الفَجْر,ُ وَكَانَ يَسْتَمِعُ الأَذَانَ. فَإِنْ سَمِعَ أَذَانًا أَمْسَكَ, وَإِلاَّ أَغَارَ. فَسَمِعَ رَجُلاً يَقُوْلُ : الله أكبر الله أكبر. فَقَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلم : عَلَى الفِطْرَةُ. ثُمَّ قَالَ : أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : خَرَجْتَ مِنَ النَّارِ. فَنَظَرُوْا فَإِذَا هُوَ رَاعِيُ مُعْزِى.
“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam menyerang jika telah terbit fajar, dan beliau menunggu adzan. Kalau mendengar adzan, beliau menahan (tidak menyerang), dan kalau tidak, beliau menyerang. Lalu beliau mendengar seseorang mengatakan , ‘ Allahu Akbar, Allahu Akbar ,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam mengatakan , ‘ Di atas fitrah.’ Kemudian orang tadi berkata, ‘ Asyhadu alla ilaha illallah, Asyhadu alla ilaha illallah ,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda, ‘ Kamu selamat dari neraka.’ Kemudian para shahabat melihat ternyata orang itu hanyalah seorang pengembala kambing.”
Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, “Di atas fitrah”, kepada orang yang berkata, “Allahu akbar”, memberikan faidah bahwasanya perkataan orang ini dan apa yang ditunjukkannya berupa makna Rububiyah adalah merupakan suatu fitrah yang telah tetap bagi manusia, oleh sebab itu Rasulullah belum menghukuminya sebagai orang yang selamat dari neraka dan sebagai orang Islam kecuali setelah ucapannya, “Asyhadu alla ilaha illallah”, syahadat yang mengandung pengingkaran kepada seluruh yang disembah selain Allah, dan itulah tauhid Uluhiyah.
Kedua, dalam Shahih Muslim (15/11 serta Syarh An-Nawawy ) dari hadits ‘Amr Ibnu Asy-Syarid, dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
رَدِفْتُ رَسُوْلَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ : هَلْ مَعَكَ مِنْ شِعْرِ أُمَيَّةِ بْنِ أَبِي الصَّلْتَ شَيْئًا ؟ قُلْتُ : نعم. قَالَ : هِيْهِ, فَأَنْشَدَتْهُ بَيْتًا فَقَالَ : هيه, ثُمَّ أَنْشَدَتْهُ بَيْتًا فَقَالَ : هيه حتى أنشدته مِائَةَ بَيْتٍ
“Saya membonceng Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam pada suatu hari, kemudian beliau berkata, ‘Apakah kamu menghafal sesuatu dari sya’ir ‘Umayyah Ibnu Abi Ash Shalt?’ Saya menjawab, ‘Iya.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata lagi, ‘Perdengarkan!’ Maka saya pun memperdengarkan satu bait sya’ir. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata, ‘Tambah lagi,’ maka saya menambah lagi satu bait. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berkata, ‘Tambah lagi,’ sampai saya membawakan 100 bait.”
Dalam riwayat yang lain, dari riwayat ‘Abdurrahman Ibnu Mahdy, ada tambahan “Dan sungguh-sungguh hampir dia (masuk) Islam karena sya’irnya.”
Maka perhatikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, “Dan sungguh-sungguh hampir dia (masuk) Islam karena sya’irnya”, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tidak menghukumi baginya Islam dengan sekedar tauhidnya bahwasanya Allah pencipta, menghidupkan dan mematikan dan sebagainya, dan dia (‘Umayyah bin Abi Ash-Shalt) termasuk orang-orang kafir yang ada pada zamannya Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam.
Berkata Imam An-Nawawy, “Nabi meminta tambahan dari syair-syairnya karena di dalamnya terkandung penetapan terhadap Rububiyah Allah dan hari kebangkitan.”
Sya’ir-sya’ir yang menunjukkan bahwasanya orang-orang musyrikin Arab menetapkan tauhid Rububiyah semata di antaranya Sya’ir ‘Umayyah bin Abi Ash-Shalt,
الْحَمْدُ للهِ مَمْسَانَا وَمَصْبَحِنَا بِالخَيْرِ صَبَّحَنَا رَبِّي وَ مَسَّانَا
رَبِّ الحَنَفِيَّةِ لَمْ تَنْفُدْ خَزَائِنُهَا مَمْلُوْءَةً طِبْقَ الْآفَاقِ أَشْطَانَا
أَلاَّ نَبِيَّ لَنَا مِنَّا فَيُخْبِرُنَا مَا بَعْدَ غَايَتِنَا مِنْ رَأْسٍ هُجْرَانَا
 
Segala puji bagi Allah di waktu petang dan pagi
Dengan kebaikan Rabb-ku di waktu pagi dan petang
Tuhan yang Maha Hanif tidak pernah habis perbendaharaannya
Selalu penuh, memenuhi seluruh ufuk luasnya
Kenapa bukan Nabi dari kami yang mengabarkan kepada kami
Apa tujuan kami yang sebenarnya berpindah
Disarikan dari sumber-sumber berikut:
  • Al-Irsyad Ila Tashih Al-I’tiqad karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
  • Hadzihi Mafahimuna karya Syeikh Dr. Shalih bin ‘Abdul ‘Aziz Ali Syaikh
  • At-Ta’liqat ‘ Ala Kasyf Asy-Syubhat karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
  • Kitab At-Tauhid Li As–Shaff Al-Awwal Ats-Tsanawy . cet. Wizaratul Ma’arif 
Sumber :http://an-nashihah.com

Senin, 28 Oktober 2013

Kenapa Harus Tauhid Dahulu ?



Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam terhadap Rasulullah, pengikut dan para shahabatnya.
Waba’du :
Seorang penelpon telah meminta kepadaku (sebuah nasehat) dengan judul “Mengapa Tauhid Dahulu?”
Ini menunjukkan bahwa si penelpon mengetahui bahwa sesungguhnya tauhid adalah pokok akidah Islam dan dasarnya serta syarat sah dan diterimanya.
Dia menyampaikan usulan tersebut untuk memahamkan orang yang belum memahami bahwa inilah kedudukan tauhid dalam Islam. Yaitu bahwa tauhid ulûhiyah (memurnikan ibadah hanya kepada Allah) merupakan perintah seluruh Rasul -dari (Rasul) pertama Nuh ‘alaihis shalâtu was salâm sampai (Rasul) terakhir Muhammad shollallâhu ‘alaihi wa sallam.
(Allah) Ta’âlâ berfirman,
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus seorang Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut”.” [An-Nahl : 36]
Dan (Allah) Subhânahu berfirman,
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka beribadahlah kalian (hanya) kepada-Ku”.” [Al-Anbiyâ` :25]
Dan tidak ada seorang Nabi pun yang diutus kepada kaumnya, melainkan pasti ia menyerukan,
“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan bagi kalian (yang berhak disembah) selain-Nya.” [Al-A’râf : 59]
Ketika Allah mengutus Nabi kita, Muhammad shollallâhu ‘alaihi wa sallam kepada kaumnya, beliau berlalu selama 10 tahun tiada lain hanya menyeru kepada tauhid. Setelah itu, disyariatkanlah shalat. Dan beliau tetap tinggal 3 tahun di Makkah (di atas hal tersebut), kemudian hijrah ke Madinah. Dan pada tahun ke-2 Hijriyah, disyariatkan zakat dan puasa.
(Tampaklah) bahwa tauhid adalah pokok agama dan dasarnya serta landasannya yang (agama itu) dibangun di atasnya. Karena itu, barangsiapa merusak tauhidnya dengan beribadah kepada sesembahan lain bersama Allah, maka dia telah merusak agamanya secara keseluruhan dan keluar dari Islam sehingga menjadi murtad serta hancurlah seluruh amal perbuatannya. (Allah) Ta’âlâ berfirman,
“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (wahai Muhammad) dan kepada (Nabi-Nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi”.” [Az-Zumar : 65]
Dan (Nabi) ‘Isa ‘alaihis shalâtu was salâm berkata,
“Hai Bani Israil, sembahlah Allah Rabbku dan Rabb kalian. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolongpun.” [Al-Mâ`idah : 72]
Dan pokok dasar yang sangat agung ini (juga) terkandung pada (kalimat) syahadat “Lâ Ilâha Illallâhu” dan “Anna Muhammadan Rasulullâh” yang (kalimat syahadat itu) terdiri dari dua bagian; “Lâ Ilâha” dan “Illallâhu”.
Bagian pertama : Penafian peribadatan dari siapa yang selain Allah ‘Azza wa Jalla pada ucapan “Asyhâdu an Lâ Ilâha” yang bermakna tidak ada sesembahan apapun di wujud ini yang berhak diibadahi kecuali Allah.
Bagian kedua : Pada ucapan “Illallâhu” terdapat penetapan peribadatan hanya untuk Allah semata tanpa selain-Nya, karena Dia-lah yang telah menciptakan alam semesta ini. (Allah) Ta’âlâ berfirman,
“Katakanlah: “Sesungguhnya patutkah kalian kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari dan kalian mengadakan sekutu-sekutu bagi-Nya?. (Yang bersifat) demikian itulah Rabb semesta alam”.” [Fushshilat : 9] dan beberapa ayat setelahnya.
Dan (Allah) Ta’âlâ berfirman,
“Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kalian sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kalian lalu membaguskan bentuk kalian serta memberi kalian rezki dengan yang baik-baik. Itulah Allah Rabb Kalian. Maha Berkah Allah, Rabb semesta alam. Dialah Yang Maha hidup kekal, tiada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Katakanlah (ya Muhammad), “Sesungguhnya aku dilarang untuk menyembah sesembahan yang kalian sembah selain Allah setelah datang kepadaku keterangan-keterangan dari Rabbku; dan aku diperintahkan supaya tunduk patuh kepada Rabb semesta alam.” [Ghâfir : 64– 66]
Sangat banyak ayat-ayat yang menunjukkan bahwa tauhid peribadatan hanya milik Allah. Maka barangsiapa yang mengucapkan (kalimat) syahadat ini; yaitu syahadat “Lâ Ilâha Illallâhu” dan “Anna Muhammadan Rasulullâh”, maka ia telah meraih keberuntungan dan telah selamat dari kerugian. (Allah) Ta’âlâ berfirman,
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasehati dalam mentaati kebenaran dan saling menasehati dalam menetapi kesabaran.” [Al-Ashr : 1-3]
Dan (Allah) Ta’âlâ berfirman,
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kezhaliman (kesyirikan), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” [Al-An’âm : 82]
Barangsiapa mengucapkannya dengan meyakini maknanya dan mengamalkan kandungannya, maka dia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ia adalah kalimat yang dengannya Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Dan karenanya, dunia dan akhirat, surga dan neraka diciptakan. Dan pada perkara inilah ketentuan kebahagiaan dan kesengsaraan.
Orang yang mengucapkan dan meyakininya akan diberi catatan amalnya dengan tangan kanannya, akan berat timbangan kebaikannya, akan (berhasil) melalui Ash-Shirâth dan masuk ke dalam surga serta selamat dari neraka.
Dan tentangnyalah, diadakan pertanyaan. (Allah) Ta’âlâ berfirman,
“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul itu kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) para rasul.” [Al-A’râf : 6]
Dan (Allah) Ta’âlâ berfirman,
“Dan (ingatlah) di hari Allah menyeru mereka, seraya berkata: “Apakah jawaban kalian kepada para rasul?” Maka tertutuplah bagi mereka segala macam alasan pada hari itu, kemudian mereka tidak bisa saling bertanya. Adapun orang yang bertaubat dan beriman, serta mengerjakan amal yang shaleh, semoga dia termasuk orang-orang yang beruntung.” [Al-Qashash : 65-67]
Syaikh kami, Hâfizh bin Ahmad Al-Hakami rahimahullâh dalam kitab Ma’ârijul Qabûl (2/510) berkata,
“Kalimat (tauhid) ini merupakan seagung-agung nikmat yang Allah anugerahkan kepada segenap hamba-Nya, (yaitu) dengan membimbing mereka kepada-Nya. Sebab itu, Allah menyebutkan (kalimat tersebut) dalam surat An-Nahl -yang (disebut juga) Surah An-Ni’am- sebagai nikmat pertama sebelum nikmat-nikmat lainnya. (Allah) berfirman,
“Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dari perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: “Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada sesembahan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka bertakwalah kalian kepada-Ku.” [An-Nahl : 2]
Kalimat ini adalah kalimat syahadat dan kunci negeri kebahagiaan. Dia adalah pokok dan asas agama. (Dia merupakan) inti, tonggak dan penyangga agama ini. Sedangkan rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban (Islam) lainnya (hanya) bercabang dan berpecah darinya dan (hanya) sebagai penyempurnanya. Dan (rukun-rukun dan kewajiban-kewajiban Islam itu) terikat dengan makna (kalimat tersebut) dan pengamalan terhadap konsekwensinya. Itulah Al-Urwah Al-Wutsqâ yang Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (tentangnya),
“Barangsiapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada Al-Urwah Al-Wutsqâ (ikatan tali yang amat kuat) lagi tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Baqarah : 256]
Dia adalah perjanjian yang Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (tentangnya),
“Mereka tidak berhak mendapatkan syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi (Allah) yang Maha Pemurah.” [Maryam : 87]
Berkata Abdullah bin Abbâs radhiyallâhu ‘anhumâ dalam menafsirkan “perjanjian” (dalam ayat tersebut), “Dia adalah syahadat “Lâ Ilâha Illallâhu” dan berlepas dari segala daya dan upaya selain dari Allah.”
Dia adalah Al-Husnâ yang Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (tentangnya),
“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan Al-Husnâ, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” [Al-Lail :5-7]
Dia adalah Kalimat Al-Haq yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya,
“Kecuali orang yang bersaksi dengan Al-Haq seraya mereka meyakini(nya).” [Az-Zukhruf : 86]
Dan dia adalah Kalimatut-Taqwa yang Allah ‘Azza wa Jalla sebutkan dalam firman-Nya,
“Allah mewajibkan kepada mereka Kalimatut-Taqwa dan merekalah yang paling berhak dengan (Kalimatut-Taqwa itu) dan paling patut memilikinya.” [Al Fath : 26]” Selesai apa yang kuhendaki penukilannya dengan ada perubahan.
Dari sini kita ketahui, mengapa tauhid adalah yang paling pertama dalam kewajiban dan yang paling pertama dalam berdakwah. Dan (mengapa) dia adalah pokok agama, dasar dan pondasinya. Maka Islam tanpa tauhid bagaikan bangunan tanpa pondasi.
Dan kita ketahui juga kesesatan orang-orang yang berdakwah kepada khilafah dan mereka merasa sedang berdakwah untuk mengembalikan khilafah yang hilang.
Kita katakan : Sesungguhnya Allah memerintahkan kita (berpegang) terhadap tauhid yang seluruh para Rasul berdakwah kepadanya. Dan Allah akan bertanya kepada kita : “Apa yang kalian ibadahi dahulu?”, “Apakah jawaban kalian kepada para rasul?”
Alangkah meruginya, orang yang menghabiskan umurnya untuk berdakwah kepada khilafah. Alangkah meruginya orang yang menyambut dan mengikutinya di atas kebatilan tersebut.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا
[Ditulis oleh Syaikh kami, Mufti Kerajaan Saudi Arabia bagian selatan, Asy-Syaikh Al-Musnid Al-Muhaddits Al-Faqîh Al-‘Allâmah Ahmad bin Yahya An-Najmi hafizhohullâh pada 17/04/1426H. Alih Bahasa oleh Ustadz Muhammad Cahyo.]
Sumber :  http://an-nashihah.com/?p=551